Permulaan
Pagi tadi kabut disekitar rumah memberikan rasa seperti ethereal scene. Apalagi rumah ini dikelilingi pepohonan dan lahan luas. Mengingatkanku pada kampung halaman, Toba Holbung. Disana aku lahir dan tumbuh diantara alam dan keheningan yang sekarang tak lagi serupa warna dan wanginya.
Alam kedua tempat ini memang berbeda, tetapi kadang-kadang ada saja hal yang membuat kita merindukan tempat dimana hati kita pernah menyebut tempat tersebut rumah.
This is the backyard view in the fog
This is the backyard view in the fog
Orang-orang disana berjuang dari matahari terbit hingga matahari tenggelam demi mencukupi kehidupan sehari-hari. Segala bentuk aktivitas sangat bernilai. Mengumpulkan kayu kering dan menjunjungnya pulang dikepala, memetik buah harimonting dari hutan sehingga bisa dikeringkan dan dijual, menanam padi sendiri dan membantu petani lain, menanam jahe, jagung, kacang, tomat, cabai dan seterusnya, menjual ikan, memanen padi sendiri dan orang lain, dan berlanjut sampai seterusnya dan setiap hari..
Makna hidup lebih mudah dijalani di kampung halamanku. Mungkin aku tidak ingat betul apa arti dari kehidupan itu sendiri 25 atau 30 tahun yang lalu tapi aku tahu rasa tidak ada beban dipundak atau dipikiran saat itu, membuat udara yang dihirup bagai keheningan embun pagi ini.
Disini, kehidupan memang terasa lebih mudah. Ada banyak hal yang tidak pantas dibandingkan karena kedua tempat berbeda ini memiliki sejarah dan kekayaan berbeda. Tapi sejatinya keduanya memiliki harum dan candu masing-masing.
Siapa yang tahu kalau aku hanya seorang anak petani dari kampung yang bahkan tidak punya aliran listrik waktu itu. Aku jadi teringat dengan ucapan seorang teman baik kemarin melalui percakapan video. "Sudahkah kamu meluangkan waktu lima menit untuk mengucapkan terimakasih kepada diri sendiri?" Pertanyaan itu terasa memukul diriku sendiri. Segala yang ku capai saat ini bukan tanpa perjuangan tapi aku belum ucapkan itu ke diriku.
Aku dengarkan baik-baik hatiku, dan aku ucapkan terimakasih kepada gadis kecil yang berjuang sendiri sejak kecil hingga usianya beranjak 30 tahun. Semuanya akan baik-baiknya dan semua ini hanyalah permulaan.
"Penciptaku menitipkan pesan saat suara tangis pertamaku berngiang diduniaDiantara fajar dan senja semua giat kerasku hanya terlihat fana
Manusia menyulap maksiat dan dosa menjadi fata morgana
Semesta yang tak terhingga menjadi harapan bagi mereka yang percaya"
Komentar
Posting Komentar