Itik Buruk Rupa (The Ugly Duckling)

Terlahir sebagai seorang perempuan bagaikan sebuah dosa. Fisikku tidak kuat, kecil dan kurus. Tidak rupawan seperti saudara-saudaranya yang lain, begitu kata orang-orang. Definisi cantik itu seperti apa? 

Setiap pagi aku berlari kencang ke sekolah  tanpa sepatu naik turun dakian, dengan rambut pendek dan tas bekas dari kakak. Orang-orang tertawa dan menunjukkan jari-jarinya ke wajahku. "Jelek!" kata orang-orang. Aku tidak berbicara banyak, tidak suka mengeluarkan kata-kata hanya untuk melukai orang lain atau hanya sekedar membalas omongan jelek. Kakakku selalu melindungiku waktu itu. 

Setiap kali tamu-tamu berkumpul dan menyalami orang tuaku, setiap kali mereka datang, "roa ma ho (jelek sekali kamu)" seru mereka lagi dan lagi membandingkanku dengan saudara-saudaraku. 

7 tahun hidup sebagai seorang perempuan dikampung membuatku takut akan manusia. Gadis kecil itu selalu sembunyi dibelakang ibu, agar tak ada seorang pun melihatnya. Begitu caranya mempelajari dunia, menjadi mata dan telinga dari belakang ibu.

Setelah pindah ke kota segalanya menjadi semakin buruk. Entah aku adalah kampungan, aku buruk rupa, dan aku kecil kurus. Aku sebagai perempuan, aku harus memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan tinggal dirumah saja. Sebagai seorang perempuan tidak ada hak-hak yang pantas untukku kecuali sekolah waktu itu. Sejak umur 8 tahun tinggal dikota bersama paman dan bibi. Mereka orang-orang baik, tetapi kehidupan tidak baik. Disekolah aku diejek siswa lain. Sepupuku pahlawanku menggantikan kakakku untuk melindungiku. Menangis adalah satu-satunya komunikasi yang mampu kulakukan saat orang-orang mengataiku. Tapi aku tidak pernah belajar membela diriku sendiri. Tidak pernah menyalahkan dunia atau bersumpah serapah. 

Hingga masa kuliah, masih banyak yang mengejek dan membuatku menangis. Selama 21 tahun (waktu itu) hidup di Indonesia, tidak pernah mereka menyebutku cantik. 

Untuk mencari pekerjaan pun aku selalu menjadi minder karena kriteria yang dicari selalu "berpenampilan menarik". Dengan rasa percayadiri minus, tidak banyak pekerjaan yang kulamar.

Suatu hari di Medan, seorang turis Australia mendatangiku dijalan dan kami mulai mengobrol panjang lebar. Kami menjadi teman dan menghabiskan hari-hari bersama selama dua minggu. Dia orang pertama yang menyebutku cantik. Aku hanya tertawa terbahak-bahak menyela kalau sebuah gombalan seperti itu tidak berfungsi. Setiap kali dia mengulanginya, aku tidak mempercayainya. 

Dalam beberapa tahun setelah itu hal itu berkelanjutan namun disampaikan oleh orang-orang asing yang berbeda. Mereka bahkan sangat tampan dan baik. Lalu aku mulai berfikir mungkin itu benar. Selama puluhan tahun aku sendiri telah mempercayai bahwa aku adalah itik buruk rupa. 


Keliling Eropa sendiri

Lalu mimpi untuk pergi ke luar negeri terasa tidak mustahil lagi. Mungkin dibelahan dunia lain, tubuh dan rupa ini memiliki nilai. Dan begitulah, melalui proses dan waktu, aku menemukan tempat dan duniaku. Bahwa aku bukan seekor itik melainkan angsa. Aku tak lagi mendengarkan orang-orang di Indonesia, tapi kata-kata suamiku yang mengatakan aku cantik setiap hari. Dan untuk menutup ini, seperti kata Jalaluddin Rumi :

"everything that is made beautiful and fair and lovely is made for the eye of one who sees." 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaafkan tanpa melupakan

A world full of wonders

Permulaan