Anak dan kehilangan diri

 Kemarin, tepat 6 bulan yang lalu Björn lahir. Sehat. Tersayang. Beautiful baby being. 

Sekarang dia sudah berceloteh banyak dan sudah memiliki karakter. Dia sering memperhatikan raut wajahku dan pappanya, lalu kadang-kadang ikut tertawa ketika kami tertawa. Momen seperti ini sangat sangat berharga. 


Menjadi ibu selama  6 bulan ini banyak tantangan, banyak hal yang menyadarkanku sebagai manusia. Diawal kelahiran Björn aku sangat rindu inong, ingin pulang ke Indonesia dan bisa peluk inong. Tapi hanya bisa menangis lewat WhatsApp dan bilang terima kasih melalui layar. Kemudian, tantangannya menjadi ibu itu bukan hanya disaat kehamilan dan melahirkan saja, tapi juga menyusui lalu bersedia kehilangan diri sendiri, tidur, dan kebebasan. Tentu menjadi orang tua adalah pilihan yang mantab dan merupakan tanggung jawab, tapi ketika harus kehilangan diri adalah the hardest battle between motherhood and your sanity. Every single day you look beaten, faint, dull and insane. You cry for you don't know what reasons, you have terrible thoughts that you think you could just die instead, too fragile for this life somehow. Not a day you treat yourself a deserving love and kindness. 

Björn sedang tidur dipangkuanku saat aku menulis ini dengan satu tangan mengetik di keyboard. Sesekali aku berhenti dan memandang wajahnya yang tidur pulas dan yang terkadang tersenyum seperti sedang bermimpi sesuatu yang menyenangkan. Walaupun kadang-kadang dia menangis menjerit seperti sedang bermimpi buruk. Ini salah satu hal kecil yang membuatku penasaran akan banyak hal, seperti bagaimana otak bayi bekerja ketika melihat dunia, apakah mereka berpikir? Memiliki bahasanya sendiri? Dan saat bermimpi apakah ada bahasa yang digunakan? Aku dan Rikard membaca buku-buku tentangg bayi dan melihat serie di Netflix yang berjudul 'Babies'. Katanya bayi dapat membedakan wajah, bahkan wajah monyet dan bahasa yang berbeda. Mungkin itu sebabnya kenapa bahasa-bahasa berbeda itu bagus diperkenalkan sejak lahir. Ada banyak sekali hal dikepala. 

Setelah beberapa bulan rutin ke psikolog karena Postpartum Depression akhirnya aku bisa berpikir sadar dan mengambil sedikit waktu untuk menyayangi diriku lagi. Mengobati perlahan luka yang terlalu lama kubiarkan. Mencoba merelakan bagian diriku yang dulu dan menerima versi yang baru dengan kasih yang lebih supaya ke depannya bisa bahagia dan sehat untuk anakku dan Rikard. Dua hadiah terbaik dan terindah sepanjang hidupku. 

Ada kalanya aku rindu teman-teman dan makanan khas indonesia tapi aku berusaha kuat untuk menunggu dan mempercayai waktu yang tepat pasti datang. Saat ini aku dan Rikard sedang repot dengan urusan pindahan dan cari pekerjaan baru. Kami bersikap optimis dan positif akan hari mendatang. 

May these upcoming months and ahead come with abundance in wealth, health, and love. 

Lights and warmth.

O

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaafkan tanpa melupakan

A world full of wonders

Permulaan