Goodbye, hello!

 It's a week to go before february ends. 

Sudah hampir dua bulan berlalu di tahun 2024 dengan cepat. Cuaca juga semakin membaik. Misalnya, hari ini sudah mencapai 7 derajat celcius, dan matahari bersinar terang walaupun kadang-kadang redup ditutupi awan-awan yang berpindah. 

Di awal tahun aku menulis daftar hal-hal yang ingin aku perbaiki. Ada beberapa tentang pengembangan diri sendiri dimana aku rasa aku cukup bangga dengan usaha yang kulakukan selama dua bulan ini. Contohnya, aku sudah membaca habis dua novel. Tidak banyak yang terjadi di Januari kecuali perayaan kecil dengan makan malam bersama ibu mertua. 

Rikard dan aku sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Dia dengan pekerjaan kantor dan perusahaannya pribadi, aku dengan pendidikanku. Aku kembali belajar matematika, IPA, dan bahasa Inggris lagi. Mungkin belajar saat ini hal yang paling membosankan, tapi itu lebih baik daripada menghabiskan waktuku di sosmed atau tidak melakukan apa-apa. Setidaknya aku meningkatkan diri dalam pengetahuan atau kompetensi. 

Aku berencana meneruskan hobi melukis atau menggambar. Beberapa kali sudah ku coba dalam pembuatan kartu ucapan, dan hasilnya memukau keluargaku dan teman baikku, Indah. Jadi ku pikir aku akan meneruskannya. 


greeting card

greeting card

Sudah seminggu juga aku merasa sakit di tenggorokan dan kedua telinga. Badan juga terasa lunglai. Aku gampang kesal sehingga membuat Rikard kena imbasnya. Suamiku yang super sabar itu memahami dan memberiku ruang untuk mengendalikan perasaanku. 


Tadi aku ditelpon sama adik perempuanku Eby. Mertuanya menyuruhnya menelponku sekiranya aku baik-baik saja. Beliau khawatir kalau aku sedang menghadapi masalah setelah melihat postingan terakhirku. Di postingan itu aku memang menyebutkan beberapa hal tentang bagaimana tekanan-tekanan dari orang-orang membuat fase dewasa terasa berat bagiku. Bukan maksud untuk mencari atensi, tapi hanya sebagai pengingat bahwa dibalik dunia maya ada realitas yang sebenarnya sedang kita semua hadapi dan orang-orang berlomba-lomba memakai topeng sebagai bentuk aktualisasi diri. Realitas maya itu tidak sejalan dengan pandangan dan pola hidupku. 

Aku bercerita ke Eby mengapa ada hal-hal yang membuatku gelisah dan banyak pikiran. Perbincangan kami berakhir dengan canda tawa. Seketika bernapas pun lega. Ada beban yang terlepas dari pundak. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak lagi hidup di Indonesia. Walaupun selamanya aku memiliki pengalaman kelam disana, tapi hanya diriku sendiri yang jadi kunci penyalanya. 

Sudah waktunya menguburkan masa kelam dalam-dalam di masa lampau. Ini waktu untuk benar-benar hidup dengan definisi diri sendiri, bukan dengan definisi orang-orang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaafkan tanpa melupakan

A world full of wonders

Permulaan